Media Raya Org

SUMBER UTAMA INFORMASI ANDA

Karangsambung Simpan 33 Ribu Spesimen Batuan Yang Merekam Evolusi Bumi


Loading

MediaRaya.Org – Puluhan ribu batuan yang tersimpan di kawasan Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah, bukan sekadar koleksi geologi. Bagi peneliti, setiap spesimen merupakan bagian dari catatan panjang perjalanan bumi yang dapat mengungkap proses pembentukan wilayah Indonesia hingga jejak pergerakan tektonik purba.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memaksimalkan pemanfaatan lebih dari 33.000 spesimen geodiversitas Karangsambung untuk penelitian, pembelajaran, hingga mendukung upaya mitigasi bencana.

Koleksi tersebut menjadi bagian penting dalam memahami karakter geologi kawasan Karangsambung yang dikenal sebagai salah satu lokasi penting untuk mempelajari evolusi geologi Indonesia.

PIC Fungsi Layanan Koleksi Ilmiah, KKI Geodiversitas Sukendar Asikin – Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN, Kristiawan Widiyanto, memaparkan batuan yang tersingkap di kawasan Karangsambung merupakan arsip esensial yang patut dikaji secara mendalam untuk memahami evolusi bumi.

“Jika sejarah manusia ditulis dalam buku, maka sejarah bumi di Karangsambung ditulis dalam batuan,” ungkap Kristiawan, dalam Webinar Koleksi Ilmiah, Senin (5/10/2026).   

Membaca Rekaman Perjalanan Bumi

Penelitian terhadap koleksi batuan Karangsambung dilakukan melalui berbagai tahapan. Peneliti tidak hanya mengamati bentuk batuan secara langsung atau megaskopis, tetapi juga melakukan analisis mikroskopis dan geokimia di laboratorium.

Rangkaian analisis tersebut dilakukan untuk mengungkap kondisi lingkungan dan berbagai proses geologi yang terjadi pada masa lalu.

“Kita bisa melihat yang sebenarnya bukan hanya sekadar batu, tetapi kita sedang membaca rekaman perjalanan bumi yang ada di kawasan Karangsambung ini,” tambahnya.   

Kristiawan memaparkan gaya-gaya dari dalam bumi memberikan tekanan kuat pada batuan sedimen yang awalnya terbentuk secara berlapis horizontal.

Rekaman gaya endogen yang mematahkan batuan merupakan hal krusial untuk dipelajari dalam skenario mitigasi bencana. Analisis terhadap lapisan yang terpotong membantu peneliti memetakan titik-titik rawan.

“Inilah yang biasa dilihat oleh teman-teman yang bergerak di bidang kebencanaan. Hal itu akan membantu melihat bahwa ini adalah zona-zona patahan, zona-zona yang bergerak, atau yang biasa kita rasakan salah satunya adalah peristiwa gempa bumi,” paparnya.  

Selain merekam proses pembentukan bumi, koleksi geodiversitas Karangsambung juga menyimpan informasi mengenai potensi sumber daya mineral dan bahan galian.

Menurut Kristiawan, kandungan yang terdapat dalam batuan dapat menjadi bahan kajian untuk berbagai kebutuhan, mulai dari industri dan konstruksi hingga pengembangan material untuk teknologi. 

“Di dalam batuan-batuan tersebut terdapat mineral, bahan galian yang dapat dikembangkan sebagai industri, konstruksi, ataupun benda-benda berteknologi tinggi,” jelasnya.   

Jejak Pembentukan Pulau Jawa

Karangsambung memiliki posisi penting dalam studi geologi Indonesia karena kawasan ini menyimpan berbagai bukti proses geologi yang berkaitan dengan pembentukan Pulau Jawa.

Sebagai pusat evolusi geologi Indonesia, Karangsambung merekam awal mula terbentuknya Pulau Jawa dari zona subduksi benua.

Kawasan ini menyimpan spesimen pembuktian seperti fosil Radiolaria pada batu rijang laut dalam, Sekis Mika yang merupakan batuan tertua berumur 117-125 juta tahun, hingga batuan beku intrusi diabas dan lava bantal (pillow lava).

Berkat kekayaan geologisnya, kawasan yang telah dijadikan kampus lapangan ilmu kebumian sejak 1964 ini terus didorong status konservasinya.

Mulai dari penetapan sebagai Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong pada 2018, hingga disidangkan oleh UNESCO pada 2024 dan telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark. Ke depannya, BRIN berkomitmen memastikan seluruh koleksi ini membawa dampak positif bagi publik.

“Saya berharap, koleksi geologi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber data untuk penelitian serta media pembelajaran bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat,” tutup Kristiawan. (Sumber: brin.go.id)

Sumber